Jika seorang wanita yang mengalami haid atau nifas telah suci sebelum matahari tenggelam maka wajib baginya untuk shalat zuhur dan asar pada hari tersebut. Dan barangsiapa yang suci dari keduanya sebelum terbitnya fajar maka wajib baginya untuk shalat magrib dan isya pada malam tersebut. Karena waktu sholat yang kedua adalah waktu sholat yang pertama ketika ada uzur.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam al Fatawa (22/234), jumhur ulama – seperti Imam Syafi’I dan Imam Ahmad- mereka berpendapat bahwa jika telah suci wanita haid di akhir siang maka dia mengerjakan sholat zuhur dan asar semuanya. Jika dia suci di akhir malam maka dia mengerjakan sholat magrib dan isya semuanya. Hak ini sebagaimana dinukil dari Abdurrahman bin Auf Abu Hurairah dan Ibnu Abbas karena di saat uzur, satu waktu mencakup dua sholat. Jika telah suci di akhir siang maka waktu zuhur tetap ada, sehingga dia sholat zuhur sebelum sholat asar. Jika telah suci di akhir malam maka waktu magrib tetap ada dalam keadaan uzur, sehingga dia sholat magrib sebelum sholat isya.
Adapun jika seorang wanita sudah menjumpai waktu sholat kemudian dia haid atau nifas sebelum dia sholat maka pendapat yang rajah bahwasanya tidak wajib bagi dia untuk mengqadha’ sholat tersebut yang dia dapatkan di awal waktu kemudian haid atau nifas sebelum mengerjakan sholat.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Kitab Majmu’ Fatawa (23/335)tentang permasalahan ini. Yang lebih Nampak dari dalil adalah pendapatnya Abu Hanifah dan Malik bahwasanya wanita tersebut tidak wajib apa-apa. Karena qadha’ itu diwajibkan dengan sebuah perintah baru, dan di sini tidak ada perintah yang mengharuskan qadha’. Juga karena wanita itu melakukan pengakhiran yang memang dibolehkan sehingga ia bukan sedang meremehkan. Adapun orang yang tidur atau lupa meskipun juga bukan sedang meremehkan- maka sholat yang dikerjakan itu bukan qadha/ namun itu adalah waktu sholat pada haknya, (yaitu) ketika dia bangun atau ingat.
Naafiah, A. 2011. Panduan Amal untuk Wanita Haid, Nifas, Istihadhah, dan Menopause. Jakarta: Mutiara Media
CARA MENGQADHA SHALAT BAGI WANITA YANG HAID DAN NIFAS
1. Perempuan yang haid, nifas atau gila di dalam waktu sholat, sedangkan dia belum mengerjakan sholat waktu itu, maka dia harus mengingat-ingatnya sholat yangditinggalkannya itu. Kemudian setelah darah haidnya berhenti ia wajib mengqadha sholat yang ditinggalkannya itu. Contohnya: wanita yang haid pada waktu isya, subuh atau asar, maka dia wajib mengqadha sholat waktu itu.
Penjelassan di atas ini adalah sholat-sholat yang tidak dapat dijama’ dengan sholat sesudahnya. Menurut sebagian ulama berpendapat: “Apabila sholat yang ditinggalkannya itu merupakan sholat yang dapat dijama’ dengan sholat yang sesudahnya, maka dia wajib mengqadha sholat yang ditinggalkan itu dan sholat sesudahnya yang dapat dijama’.” Contohnya: seorang wanita kedatangan haid waktu zuhur atau magrib, maka dia wajib mengqadha sholat zuhur dengan asar atau magrib dengan isya.
Rinciannya sebagai berikut:
Haid datang waktu zuhur Qadha zuhur dan asar
Haid datang waktu asar Qadha asar
Haid datang waktu magrib Qadha magrib dan isya
Haid datang waktu isya Qadha isya
Haid datang waktu subuh Qadha subuh
2. Perempuan yangtelah berhenti haid atau nifas pada waktu sholat subuh, zuhur atau magrib, maka ia harus melaksanakan sholat waktu itu (ada).
3. Perempuan yangtelah berhenti haid atau nifas pada waktu sholat asar atau isya, maka ia harus melakukan sholat waktu itu, meskipun waktu itu tinggal bacaan takbiratul ihram saja dan harus mengqadha sholat sebelumnya (zuhur/magrib).
Rinciannya sebagai berikut:
Haid berhenti zuhur sholat zuhur
Haid berhenti asar qadha zuhur dan laksanakan sholat asar
Haid berhenti magrib sholat magrib
Haid berhenti isya qadha sholat magrib dan laksanakan sholat isya
Haid berhenti subuh sholat subuh
4. Apabila berhentinya haid atau nifas itu masih berada pada waktu sholat tetapi tidak cukup untuk bersuci dan takbiratul ihram maka harus mengqadha sholat tersebut.
Rinciannya sebagai berikut:
Haid berhenti zuhur qadha sholat zuhur
Haid berhenti asar qadha zuhur dan asar
Haid berhenti magrib qadha sholat magrib
Haid berhenti isya qadha sholat magrib dan isya
Haid berhenti subuh qadha sholat subuh
Sunarto, A. 1987. Haid dan Masalahnya. Surabaya: Mutiara Ilmu
Jumat, 23 Desember 2011
Selasa, 25 Oktober 2011
JIWA YANG TIDUR
Syair ini ingin bicara padamu
dalam rangkaian kata yang sayapnya tak terlihat
Bukan untuk membuatmu melambungkan angan
tapi menggerakkan nuranimu untuk kembali
mengingat kekhilafan
Membangunkanmu dari tidurmu yang panjang
agar tersungkur dalam pengharapan
Tembok-tembok tinggi mengelilingi raga yang kaku
yang hatinya telah beku
Lidah begitu kelu untuk memohon ampun
Sungguh kau lupa bahwa dirimu hanya debu
di tengah luasnya jagad
Tak sadarkah kau?
Kau lupa pada perjumpaan yang pasti
Terlena pada gemerlap dunia fana
Dan perjumpaan itu sudah semakin dekat masanya
Sudahkah kau siapkan perbekalan?
Maka bangunlah jiwa yang tidur…
dalam rangkaian kata yang sayapnya tak terlihat
Bukan untuk membuatmu melambungkan angan
tapi menggerakkan nuranimu untuk kembali
mengingat kekhilafan
Membangunkanmu dari tidurmu yang panjang
agar tersungkur dalam pengharapan
Tembok-tembok tinggi mengelilingi raga yang kaku
yang hatinya telah beku
Lidah begitu kelu untuk memohon ampun
Sungguh kau lupa bahwa dirimu hanya debu
di tengah luasnya jagad
Tak sadarkah kau?
Kau lupa pada perjumpaan yang pasti
Terlena pada gemerlap dunia fana
Dan perjumpaan itu sudah semakin dekat masanya
Sudahkah kau siapkan perbekalan?
Maka bangunlah jiwa yang tidur…
PELITA HEBAT
Di antara tembok-tembok kokoh yang bisu
Bersama waktu yang hanya bisa melangkah maju
Tersungkur jiwa di atas sajadah biru
Memungut serpihan hati yang retak dan keruh
Logika berkata, mustahil mengulang waktu
Namun jiwa terus meronta ingin kembali ke masa lalu
Menangis dalam keheningan berselimut pilu
Ratapi catatan suram yang penuhi sejarah hidup
Nurani kelam penuh noktah hitam
Goresan masa silam yang gelap seperti malam
Diri bagai kapal karam yang tenggelam di lautan
Namun terus mencoba berenang mencari tepian ampunan
Air mata tumpah dari mata yang sayu
Menyirami hati yang telah layu
Sadarilah wahai jiwa yang berkarat
Waktumu hanya tinggal sesaat
Jadilah pelita hebat pemberi manfaat
Meski hanya dengan sepotong ayat
Bersama waktu yang hanya bisa melangkah maju
Tersungkur jiwa di atas sajadah biru
Memungut serpihan hati yang retak dan keruh
Logika berkata, mustahil mengulang waktu
Namun jiwa terus meronta ingin kembali ke masa lalu
Menangis dalam keheningan berselimut pilu
Ratapi catatan suram yang penuhi sejarah hidup
Nurani kelam penuh noktah hitam
Goresan masa silam yang gelap seperti malam
Diri bagai kapal karam yang tenggelam di lautan
Namun terus mencoba berenang mencari tepian ampunan
Air mata tumpah dari mata yang sayu
Menyirami hati yang telah layu
Sadarilah wahai jiwa yang berkarat
Waktumu hanya tinggal sesaat
Jadilah pelita hebat pemberi manfaat
Meski hanya dengan sepotong ayat
TULANG RUSUK MENUNGGUMU
Tahukah engkau seberapa cepat dawai hati ini berdenting
Frekuensinya tak mampu kau ukur bahkan olehku sendiri
Tatapan mata sendumu menjadi medium merambatnya
gelombang asa yang akhirnya diterima lensa nurani
Gelisah ini sudah bersenyawa dengan ketakberdayaan
Gundah menjadi katalisator keputusasaan
Tapi tak mungkin reaksi di sanubari ini terus dibiarkan
Karena hanya akan menjadi polusi yang tinggalkan noda hitam
Untaian kata yang tertata meluncur dari bibir yang
dibasahi tasbih laksana bintang jatuh di malam nan kelam
Tinggalkan jejak tak terhapus di ladang hati menyisakan
lubang yang menganga mengharap kau sudi mengisi
Inginku suatu saat mampu menelaah anatomi pikiranmu,
agar kudapat mencerna segala tanya yang kau hidangkan
Menganalisa mengapa evolusi rasa ini berlangsung begitu cepat
Bermutasi menjadi bunga yang indah namun juga menyiksa
Dan bila harapku sesuai skenario Sang Sutradara kehidupan,
kan kujelaskan bahwa aku si tulang rusuk yang menunggumu
Bersimbiosis bersamamu menghiasi taman hati yang semula sepi
hingga ia berseri dan benderang oleh cahaya cinta yang suci
Frekuensinya tak mampu kau ukur bahkan olehku sendiri
Tatapan mata sendumu menjadi medium merambatnya
gelombang asa yang akhirnya diterima lensa nurani
Gelisah ini sudah bersenyawa dengan ketakberdayaan
Gundah menjadi katalisator keputusasaan
Tapi tak mungkin reaksi di sanubari ini terus dibiarkan
Karena hanya akan menjadi polusi yang tinggalkan noda hitam
Untaian kata yang tertata meluncur dari bibir yang
dibasahi tasbih laksana bintang jatuh di malam nan kelam
Tinggalkan jejak tak terhapus di ladang hati menyisakan
lubang yang menganga mengharap kau sudi mengisi
Inginku suatu saat mampu menelaah anatomi pikiranmu,
agar kudapat mencerna segala tanya yang kau hidangkan
Menganalisa mengapa evolusi rasa ini berlangsung begitu cepat
Bermutasi menjadi bunga yang indah namun juga menyiksa
Dan bila harapku sesuai skenario Sang Sutradara kehidupan,
kan kujelaskan bahwa aku si tulang rusuk yang menunggumu
Bersimbiosis bersamamu menghiasi taman hati yang semula sepi
hingga ia berseri dan benderang oleh cahaya cinta yang suci
Kamis, 20 Oktober 2011
FATAMORGANA SENJA
Mentari telah lelah bersinar atau ia
sudah muak dengan among kosong dunia
yang gemerlap oleh lampu nista
Dan di penghujung hari yang pada hakikatnya
bak lembaran yang telah dibalik kembali
Kulihat fatamorgana di seberang sana menungguku berlari
Memanggilku tuk mengejarnya hingga ku tak lagi
merasakan kakiku berpijak di bumi yang renta
Binarnya menyeretku berimajinasi memasuki
lorong-lorong benak yang tak berujung
Dan kutemukan sebuah bilik tak berpenghuni
yang akan kusulap layaknya negeri dongeng
Bersama bayangnya yang berkelebat di langit biru hati
Senandung air mata meninabobokan jiwa
dalam penantian tak kenal lelah
Menyulam asa, merajut harap
agar fatamorgana bukan mimpi belaka
Namun menjadi nyata yang tersentuh
Melodi rindu bergema menggemparkan seisi sanubari
Aromanya menyeruak memenuhi atmosfer nurani
Hingga sesak terus mendesak, menderu dan menggebu
Takut dan harap berpadu jadi satu
Bersenyawa dalam tabung reaksi bernama hati
Fatamorgana senja torehkan bait-bait rasa
di prasasti hati yang tersembunyi
Dan aku harus berjuang agar dia tak menjadi
tiran yang menawan diri dalam angan-angan
Membius jiwa dalam kepayahan tak terperi
Biarlah fatamorgana berlalu bersama senja merah jingga
dan ia tak pernah tahu bahwa malamku berselimut
alunan syahdu pinta yang teramat lirih
Namun kuyakin lagu ini terdengar sampai ke nirwana
Maka kutunggu pagi esok dipenuhi hangatnya
sinar mentari yang tersenyum di cakrawala
Dan kau tak lagi fatamorganaku yang kukejar
Karena kau sudah berdiri tegak di hadapku
dengan uluran tangan yang kan kusambut
Teriring puji bagi Sang Arsitek
yang menjadikanmu tak lagi fana
sudah muak dengan among kosong dunia
yang gemerlap oleh lampu nista
Dan di penghujung hari yang pada hakikatnya
bak lembaran yang telah dibalik kembali
Kulihat fatamorgana di seberang sana menungguku berlari
Memanggilku tuk mengejarnya hingga ku tak lagi
merasakan kakiku berpijak di bumi yang renta
Binarnya menyeretku berimajinasi memasuki
lorong-lorong benak yang tak berujung
Dan kutemukan sebuah bilik tak berpenghuni
yang akan kusulap layaknya negeri dongeng
Bersama bayangnya yang berkelebat di langit biru hati
Senandung air mata meninabobokan jiwa
dalam penantian tak kenal lelah
Menyulam asa, merajut harap
agar fatamorgana bukan mimpi belaka
Namun menjadi nyata yang tersentuh
Melodi rindu bergema menggemparkan seisi sanubari
Aromanya menyeruak memenuhi atmosfer nurani
Hingga sesak terus mendesak, menderu dan menggebu
Takut dan harap berpadu jadi satu
Bersenyawa dalam tabung reaksi bernama hati
Fatamorgana senja torehkan bait-bait rasa
di prasasti hati yang tersembunyi
Dan aku harus berjuang agar dia tak menjadi
tiran yang menawan diri dalam angan-angan
Membius jiwa dalam kepayahan tak terperi
Biarlah fatamorgana berlalu bersama senja merah jingga
dan ia tak pernah tahu bahwa malamku berselimut
alunan syahdu pinta yang teramat lirih
Namun kuyakin lagu ini terdengar sampai ke nirwana
Maka kutunggu pagi esok dipenuhi hangatnya
sinar mentari yang tersenyum di cakrawala
Dan kau tak lagi fatamorganaku yang kukejar
Karena kau sudah berdiri tegak di hadapku
dengan uluran tangan yang kan kusambut
Teriring puji bagi Sang Arsitek
yang menjadikanmu tak lagi fana
PROPOSAL MIMPI
Suatu hari, sehabis ngaji Islam di masjid kampus. Nabila ditawari oleh sahabatnya, Maryam, sebuah buku yang bagus. Maryam ini adalah teman satu kampusnya Nabila. Mereka sering ngaji bareng di mesjid dan diskusi berbagai hal mengenai Islam. Pas banget, si Nabila ini kutu buku dan Maryam adalah distributor buku-buku Islami. Jadi, Maryam sering menawarkan buku-buku terbaru pada Nabila.
“Ukh, ada buku baru lho. Karya Ka Akin. Seri kedua Trias Motivatica lanjutan AlQandas AlKamiil. Mau gak?”, Maryam promosi.
“Wah, pengen banget ukh. Berapa harganya?”, tanya Nabila.
“25 ribu. Kalo anti pengen, ntar ana simpan satu deh buat anti”
“Siip, ntar ana sms ya kalo dah ada anggarannya. Insya Allah ana beli kok”
Pas minggu depannya, Nabila pun mengingatkan Maryam untuk bawain buku pesanannya karena dia dah punya cukup uang dan penasaran banget sama isi buku itu. Sehabis ngaji bareng kayak biasa, dilakukanlah transaksi jual beli antara Nabila dan Maryam.
“Ukh, buku kemaren dibawain ga? Ana dah bawa uangnya nih” kata Nabila.
“Ada ukh, kita ke secretariat yuk. Ana nyimpan buukunya di sana”
Mereka pun menuju secretariat LDK di samping masjid.
“Nih bukunya ukh. Judulnya bagus kan ukh? WINNETO LA MIMFITO. Artinya kemenangan mimpi”, jelas Maryam.
“Bahasa Itali ya? Asyik banget kayaknya nih”
“Bukan ukh. Cuma mirip bahasa Itali aja. Coba deh dibaca. Ada bagian yang bagus banget lho”
Maryam lalu membukakan sebuah halaman dan menunjukkannya pada Nabila. Nabila membaca halaman itu. Tertera tulisan “Proposal Mimpi Saya”. Pas dibacanya bagian yang ditunjuk Maryam. Waaaaaah, pantas aja kata Maryam ini bagian paling seru. Hehehe. Nabila lalu meledek Maryam. Mau tau kenapa Nabila ngeledek Maryam? Baca aja bukunya ya. Pasti kamu akan tahu alasannya. ^^
Buku itu pun telah menjadi milik Nabila. Nabila langsung melahap buku itu. Maksudnya membaca isi buku itu. Hehe. Bener-bener menginspirasi. Karena “proposal mimpi” Ka Akin, yang merupakan kakak kelasnya di SMA, Nabila jadi terinspirasi buat bikin proposal mimpi juga.
“Hmmm, gimana ya? Mulai dari mana? Apa kayak makalah atau KTI yang ada pendahuluan, isi, dan penutup? ” batin Nabila.
SejenakNabila berpikir. Tring...! Seperti ada lampu di kepala Nabila. Ada ide nih. nabila pun mengikuti langkah-langkah dari buku itu gimana cara menulis proposal mimpi.
“Ah, yang penting aku berani menuliskan mimpiku. Hasilnya terserah Allah mau nerima apa nggak”, tekad Nabila.
Nabila pun mulai menuliskan proposal mimpi yang akan diajukan kepada Allah SWT.
“Pada kesempatan ini, saya mengajukan prosposal mimpi ini kepada Allah SWT. Besar harapan saya agar proposal ini diterima. Oleh karena itu, saya menulisnya dengan sungguh-sungguh dan mengharap pula bagi kalian yang telah membaca proposal ini untuk turut mendoakan. Apapun yang Allah SWT tetapkan itu adalah yang terbaik untuk hambaNya. Saya yakin sekali akan hal itu. Maka, saya hanya bisa menyempurnakan ikhtiar dan doa diiringi tawakkal kepadaNya. Semoga Ia senantiasa memberikan kelapangan hati dan keikhlasan kepada hambaNya yang selalu mengharap dan bergantung padaNya. Tiada tempat meminta pertolongan selain Dia. Tiada tempat bergantung selain Dia. Maka tunjukkan jalan kebenaran dan ridhoi setiap usaha kami serta terimalah proposal ini Ya Allah...
Tahun 2011:
Saya lulus kuliah dengan nilai yang sangat baik dan membuat orang tua dan keluarga bahagia dan bangga. Saya dapat pekerjaan yang baik sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah yang lingkungannya baik pula. Punya banyak siswa yang menyayangi saya dan saya pun sayang pada mereka. Mendapat banyak pengalaman berharga. Saya juga ikut kursus bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan dan lulus dengan skor yang baik. Insya Allah. Saya ikut tes pegawai dan lulus. Ditempatkan di sekolah yang baik dan dapat siswa yang baru dan banyak. Tempat kerja yang baik dan tetap di sekitar tempat tinggal. Akhirnya orang tua pun bahagia sekali. I love my family. Oya, saya juga bergabung dgn organisasi kepenulisan di daerah saya. Menimba ilmu, mendapat pengalaman dan teman baru yang baik dan banyak. Masih dapat berkontribusi pada organisasi dakwah kampus tercinta meski bukan lagi pengurusnya. Mengabdi pada dunia pendidikan untuk mencapai cita-cita bangsa serta tetap istiqomah menebar nilai-nilai Islam yang syumul. Amien. ^^
Tahun 2012:
Memulai karir sebagai guru tetap dan ikut prajabatan. Mengajar di sekolah favorit di daerah saya dan almamater saya sendiri. Sehingga saya dapat mengabdi tak hanya pada dunia pendidikan tapi memajukan sekolah saya. Di tahun ini pula, mantap membina rumah tangga dengan seorang ikhwan yang sholeh, baik, pintar, berpengetahuan dan berwawasan luas, ilmu agamanya sungguh membuatku kagum, tak sekadar tahu tapi paham dan mengamalkannya, aktif dalam dakwah, memiliki pandangan yang sama dengan saya, berlatar belakang pendidikan yang baik, dari keluarga yang baik dan harmonis serta agamis, orangnya humoris, bijaksana, sopan santun, tutur katanya lemah lembut namun tegas, setia, pengertian, penyayang, hormat pada orang tua, memuliakan wanita, dan banyak kelebihan lainnya terutama dapat menerima saya da keluarga apa adanya. Semoga imam yang disiapkan Allah ini adalah yang terbaik. Aku ingin mencintaiya karena Allah, bukan karena pangkatnya, hartanya, fisiknya atau keturunannya. Semata-mata karna aku yakin dia dapat mengajariku tentang Islam, menegurku jika salah, menasihati jika khilaf, mengingatkan jika lupa, mendukung saat rapuh, menghibur di kala sedih, dan berbagi saat suka maupun duka. Aku juga ingin dinikahinya semata-mata karena Allah, karena agamaku, bukan hal yg bersifat duniawi, itu hanya faktor pendukung saja. Tak lama ta'aruf, kami pun menyempurnakan separo agama kami. Barakallahu... Ya Allah kabulkanlah...
Tahun 2014:
Melanjutkan kuliah S2. Sambil terus mengajar dan menuntut ilmu agama. Punya momongan juga...
Tahun 2018:
Telah selesai kuliah dengan nilai memuaskan. Bersama keluarga dan teman-teman, merintis sebuah perpustakaan atau taman bacaan untuk umum. Taman bacaan ini akan jadi tempat menggali dan berbagi ilmu serta menebar nilai-nilai Islam yang syumul.
Tahun 2022:
Naik haji bersama keluarga. Amien.
Tahun 2025:
Taman bacaan yang saya dirikan semakin berkembang. Akhirnya saya dan teman-teman bersama-sama memperluas jaringan dengan mendirikan yayasan pendidikan juga membuka bimbel.
Demikian proposal mimpi ini saya tuliskan dan saya ajukan padaMu Ya Allah. Semoga Engkau berkenan menerimanya. Berikan hamba kelapangan hati menerima segala ketetapanMu karena itu pasti yang terbaik untuk hamba. Engkau Maha Mengetahui segalanya, sedang hamba tidak tahu apapun. Engkau akan memberi apa yang hamba butuhkan dan Engkau pasti memberi hamba yang terbaik. Terbaik untuk hidup hamba, keluarga hamba, agama hamba, dunia dan akhirat hamba.
Syukran katsir untuk Ustadz Akin yang telah menginspirasi melalui bukunya “WINNETO LA MIMFITO Kemenangan Mimpi” yang membuat saya termotivasi untuk berani menuliskan mimpi saya dan mempublikasikannya. Semoga Allah mengabulkan mimpi Ustadz, demikian pula mimpi saya dan semua mimpi kaum muslimin. Insya Allah. Amien... n_n
Nah, itulah proposal mimpi Nabila. Doakan aja deh semoga terkabul dan diterima Allah SWT.
“Alhamdulillah, selesai juga nih proposal. Diapain ya?”
“Eh, katanya harus ada lembar pengesahan juga. Berarti ada yang jadi saksi nih. Hmmmm, Maryam aja deh saksinya.”
Nabila pun membuat lembar pengesahan proposalnya.
Lembar Pengesahan Proposal Mimpi
Demikian proposal mimpi ini saya buat dengan semestinya dan seyakin-yakinnya dan Allah menyaksikan apa yang saya tulis. Semoga Allah mengabulkan setiap detail yang saya tuliskan. Amin Ya Mujibas Sailiin
Banjarmasin, 21 Oktober 2011
Pemohon,
Nabila Azzahra
Tanda tangan saksi
Maryam Safitri
Saksi utama
Allah Subhanahu wa ta’ala
“Ok deh,beres nih. ntar Maryam harus ttd di proposal ini”, seru Nabila girang.
Keesokan harinya, Nabila pun meminta Maryam untuk jadi saksi pengajuan proposal mimpi ini. Semoga proposal ini diterima Allah SWT. Amien. Keep hamasah Nabila !!! Allah bersamamu! n_n
“Ukh, ada buku baru lho. Karya Ka Akin. Seri kedua Trias Motivatica lanjutan AlQandas AlKamiil. Mau gak?”, Maryam promosi.
“Wah, pengen banget ukh. Berapa harganya?”, tanya Nabila.
“25 ribu. Kalo anti pengen, ntar ana simpan satu deh buat anti”
“Siip, ntar ana sms ya kalo dah ada anggarannya. Insya Allah ana beli kok”
Pas minggu depannya, Nabila pun mengingatkan Maryam untuk bawain buku pesanannya karena dia dah punya cukup uang dan penasaran banget sama isi buku itu. Sehabis ngaji bareng kayak biasa, dilakukanlah transaksi jual beli antara Nabila dan Maryam.
“Ukh, buku kemaren dibawain ga? Ana dah bawa uangnya nih” kata Nabila.
“Ada ukh, kita ke secretariat yuk. Ana nyimpan buukunya di sana”
Mereka pun menuju secretariat LDK di samping masjid.
“Nih bukunya ukh. Judulnya bagus kan ukh? WINNETO LA MIMFITO. Artinya kemenangan mimpi”, jelas Maryam.
“Bahasa Itali ya? Asyik banget kayaknya nih”
“Bukan ukh. Cuma mirip bahasa Itali aja. Coba deh dibaca. Ada bagian yang bagus banget lho”
Maryam lalu membukakan sebuah halaman dan menunjukkannya pada Nabila. Nabila membaca halaman itu. Tertera tulisan “Proposal Mimpi Saya”. Pas dibacanya bagian yang ditunjuk Maryam. Waaaaaah, pantas aja kata Maryam ini bagian paling seru. Hehehe. Nabila lalu meledek Maryam. Mau tau kenapa Nabila ngeledek Maryam? Baca aja bukunya ya. Pasti kamu akan tahu alasannya. ^^
Buku itu pun telah menjadi milik Nabila. Nabila langsung melahap buku itu. Maksudnya membaca isi buku itu. Hehe. Bener-bener menginspirasi. Karena “proposal mimpi” Ka Akin, yang merupakan kakak kelasnya di SMA, Nabila jadi terinspirasi buat bikin proposal mimpi juga.
“Hmmm, gimana ya? Mulai dari mana? Apa kayak makalah atau KTI yang ada pendahuluan, isi, dan penutup? ” batin Nabila.
SejenakNabila berpikir. Tring...! Seperti ada lampu di kepala Nabila. Ada ide nih. nabila pun mengikuti langkah-langkah dari buku itu gimana cara menulis proposal mimpi.
“Ah, yang penting aku berani menuliskan mimpiku. Hasilnya terserah Allah mau nerima apa nggak”, tekad Nabila.
Nabila pun mulai menuliskan proposal mimpi yang akan diajukan kepada Allah SWT.
“Pada kesempatan ini, saya mengajukan prosposal mimpi ini kepada Allah SWT. Besar harapan saya agar proposal ini diterima. Oleh karena itu, saya menulisnya dengan sungguh-sungguh dan mengharap pula bagi kalian yang telah membaca proposal ini untuk turut mendoakan. Apapun yang Allah SWT tetapkan itu adalah yang terbaik untuk hambaNya. Saya yakin sekali akan hal itu. Maka, saya hanya bisa menyempurnakan ikhtiar dan doa diiringi tawakkal kepadaNya. Semoga Ia senantiasa memberikan kelapangan hati dan keikhlasan kepada hambaNya yang selalu mengharap dan bergantung padaNya. Tiada tempat meminta pertolongan selain Dia. Tiada tempat bergantung selain Dia. Maka tunjukkan jalan kebenaran dan ridhoi setiap usaha kami serta terimalah proposal ini Ya Allah...
Tahun 2011:
Saya lulus kuliah dengan nilai yang sangat baik dan membuat orang tua dan keluarga bahagia dan bangga. Saya dapat pekerjaan yang baik sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah yang lingkungannya baik pula. Punya banyak siswa yang menyayangi saya dan saya pun sayang pada mereka. Mendapat banyak pengalaman berharga. Saya juga ikut kursus bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan dan lulus dengan skor yang baik. Insya Allah. Saya ikut tes pegawai dan lulus. Ditempatkan di sekolah yang baik dan dapat siswa yang baru dan banyak. Tempat kerja yang baik dan tetap di sekitar tempat tinggal. Akhirnya orang tua pun bahagia sekali. I love my family. Oya, saya juga bergabung dgn organisasi kepenulisan di daerah saya. Menimba ilmu, mendapat pengalaman dan teman baru yang baik dan banyak. Masih dapat berkontribusi pada organisasi dakwah kampus tercinta meski bukan lagi pengurusnya. Mengabdi pada dunia pendidikan untuk mencapai cita-cita bangsa serta tetap istiqomah menebar nilai-nilai Islam yang syumul. Amien. ^^
Tahun 2012:
Memulai karir sebagai guru tetap dan ikut prajabatan. Mengajar di sekolah favorit di daerah saya dan almamater saya sendiri. Sehingga saya dapat mengabdi tak hanya pada dunia pendidikan tapi memajukan sekolah saya. Di tahun ini pula, mantap membina rumah tangga dengan seorang ikhwan yang sholeh, baik, pintar, berpengetahuan dan berwawasan luas, ilmu agamanya sungguh membuatku kagum, tak sekadar tahu tapi paham dan mengamalkannya, aktif dalam dakwah, memiliki pandangan yang sama dengan saya, berlatar belakang pendidikan yang baik, dari keluarga yang baik dan harmonis serta agamis, orangnya humoris, bijaksana, sopan santun, tutur katanya lemah lembut namun tegas, setia, pengertian, penyayang, hormat pada orang tua, memuliakan wanita, dan banyak kelebihan lainnya terutama dapat menerima saya da keluarga apa adanya. Semoga imam yang disiapkan Allah ini adalah yang terbaik. Aku ingin mencintaiya karena Allah, bukan karena pangkatnya, hartanya, fisiknya atau keturunannya. Semata-mata karna aku yakin dia dapat mengajariku tentang Islam, menegurku jika salah, menasihati jika khilaf, mengingatkan jika lupa, mendukung saat rapuh, menghibur di kala sedih, dan berbagi saat suka maupun duka. Aku juga ingin dinikahinya semata-mata karena Allah, karena agamaku, bukan hal yg bersifat duniawi, itu hanya faktor pendukung saja. Tak lama ta'aruf, kami pun menyempurnakan separo agama kami. Barakallahu... Ya Allah kabulkanlah...
Tahun 2014:
Melanjutkan kuliah S2. Sambil terus mengajar dan menuntut ilmu agama. Punya momongan juga...
Tahun 2018:
Telah selesai kuliah dengan nilai memuaskan. Bersama keluarga dan teman-teman, merintis sebuah perpustakaan atau taman bacaan untuk umum. Taman bacaan ini akan jadi tempat menggali dan berbagi ilmu serta menebar nilai-nilai Islam yang syumul.
Tahun 2022:
Naik haji bersama keluarga. Amien.
Tahun 2025:
Taman bacaan yang saya dirikan semakin berkembang. Akhirnya saya dan teman-teman bersama-sama memperluas jaringan dengan mendirikan yayasan pendidikan juga membuka bimbel.
Demikian proposal mimpi ini saya tuliskan dan saya ajukan padaMu Ya Allah. Semoga Engkau berkenan menerimanya. Berikan hamba kelapangan hati menerima segala ketetapanMu karena itu pasti yang terbaik untuk hamba. Engkau Maha Mengetahui segalanya, sedang hamba tidak tahu apapun. Engkau akan memberi apa yang hamba butuhkan dan Engkau pasti memberi hamba yang terbaik. Terbaik untuk hidup hamba, keluarga hamba, agama hamba, dunia dan akhirat hamba.
Syukran katsir untuk Ustadz Akin yang telah menginspirasi melalui bukunya “WINNETO LA MIMFITO Kemenangan Mimpi” yang membuat saya termotivasi untuk berani menuliskan mimpi saya dan mempublikasikannya. Semoga Allah mengabulkan mimpi Ustadz, demikian pula mimpi saya dan semua mimpi kaum muslimin. Insya Allah. Amien... n_n
Nah, itulah proposal mimpi Nabila. Doakan aja deh semoga terkabul dan diterima Allah SWT.
“Alhamdulillah, selesai juga nih proposal. Diapain ya?”
“Eh, katanya harus ada lembar pengesahan juga. Berarti ada yang jadi saksi nih. Hmmmm, Maryam aja deh saksinya.”
Nabila pun membuat lembar pengesahan proposalnya.
Lembar Pengesahan Proposal Mimpi
Demikian proposal mimpi ini saya buat dengan semestinya dan seyakin-yakinnya dan Allah menyaksikan apa yang saya tulis. Semoga Allah mengabulkan setiap detail yang saya tuliskan. Amin Ya Mujibas Sailiin
Banjarmasin, 21 Oktober 2011
Pemohon,
Nabila Azzahra
Tanda tangan saksi
Maryam Safitri
Saksi utama
Allah Subhanahu wa ta’ala
“Ok deh,beres nih. ntar Maryam harus ttd di proposal ini”, seru Nabila girang.
Keesokan harinya, Nabila pun meminta Maryam untuk jadi saksi pengajuan proposal mimpi ini. Semoga proposal ini diterima Allah SWT. Amien. Keep hamasah Nabila !!! Allah bersamamu! n_n
Jumat, 20 Mei 2011
JALAN BAHAGIA
Ini sebuah kisah tentang seorang teman yang sangat tegar.
Beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah saat saya semester 4. Suatu hari, saya tiba di kampus, tepatnya di aula di mana perkuliahan hari itu akan dilaksanakan. Seperti biasa, kalau kuliah pagi, akan lumayan banyak mahasiswa yang terlambat termasuk juga dosennya. Saya mencari tempat duduk yang nyaman, ga hanya buat saya seorang, tetapi buat teman-teman cs. Nah, saya memilih duduk di belakang Lila dan sohibnya, Rara. Di sana juga ada dua orang lagi sohib mereka. Setelah saya duduk, saya perhatikan mereka sedang bicara serius. Tapi kok ada yang aneh. Ada air mata yang mengiringi pembicaraan mereka. Dasar saya yg penasaran, saya ikut nimbrung.
“Eh, La, kenapa nangis? Ada apa?”
“Aku mau berhenti kuliah”
“Kenapa?”
Lila pun menguraikan kisahnya. Dia udah tak bisa lagi melanjutkan kuliah karena sakit yang dideritanya semakin membuatnya tak berdaya. Sakit? Sakit apa?
Baiklah, akan saya ceritakan lagi mengenai hal ini.
Saya lupa tepatnya kapan. Lila bercerita kepada saya, bahwa dia memiliki suatu penyakit bawaan sejak lahir. Penyakit itu terkait saraf mata yang terhubung ke otak. Saya juga tidak tahu apa nama penyakit ini. Jadi jangan tanya saya apa nama penyakitnya. Karena saraf mata yg mengalami gangguan, maka dokter yg pernah menanganinya berkata bahwa tidak ada pengobatan yg dapat menyembuhkannya, yg ada hanya mengurangi rasa sakit dan mencegah agar tidak bertambah parah. Bola mata yg sebelah kirinya adalah bola mata tanam, bukan lagi yang asli karena telah diganti. Dia juga pernah menjalani operasi katarak sehingga pernah satu tahun harus meninggalkan sekolahnya.
Meski dengan keadaannya yg seperti itu, Lila tak patah semangat untuk terus sekolah kembali. Lila juga termasuk siswa yang pandai. Di kampus pun dia mendapat IP yang terbilang tinggi di prodi kami. Lila juga akhwat yang baik. Dia ikut bergabung juga di KSI tingkat prodi. Karena keadaan sakitnya itu, dia pun mengundurkan diri dari KSI.
Untuk melihat ke papan tulis, Lila udah ga bisa. Sehingga dia cuma melihat catatan temannya yg di samping. Penglihatannya akhir-akhir ini pun semakin kabur. Apalagi jika dipaksakan untuk belajar, Lila pusing dan semakin gelap. Saat mengetahui keadaannya seperti itu, saya sungguh merasa miris. Andai saja saya di posisinya, mungkin saya tak bisa sekuat Lila. Saya jadi semakin bersyukur dgn apa yg telah Allah SWT karuniakan kepada saya. Alhamdulillah...
Kembali ke obrolan bersama Lila cs.
Lila udah ga kuat lagi untuk terus kuliah. Semakin kabur, semakin gelap. Pusing juga. Dia menjelaskan semuanya sambil diiringi air mata. Tentu saja kami sebagai teman turut prihatin dgn keadaannya. Kami nangis bersama. Akhirnya kami cuma bisa menguatkan dia dan mendoakan agar Lila kuat menghadapi cobaan ini. Akhirnya Lila pun memutuskan untuk berhenti kuliah. Katanya, kalau keadaannya telah membaik, dia akan meneruskan kuliah.
Hingga akhir semester dan final, Lila masih tetap ke kampus seperti biasa. Setelah itu kemudian seperti yang sudah direncanakan, Lila cuti kuliah. Sebelumnya dia sudah bercerita kepada dosen PA.
Saat teman-teman ikhwan di KSI tahu keadaan Lila, mereka mengusulkan kepada kami para akhwat untuk menjenguk dan mensupprotnya. Ya, kami memang berencana seperti itu. Saya pun meminta Rara untuk memberi info kalau Lila ada di Banjarmasin. Rara adalah teman dekat Lila dan tinggal satu kos.
Suatu hari, Rara memberi kabar bahwa Lila sedang ada di Banjarmasin dan ada di kos. Saya dan beberapa teman lalu menjenguknya sepulang kuliah. Senang sekali bisa bertemu dengannya lagi. Kami pun bercerita banyak hal. Prihatin. Itu yg kami rasakan saat melihat keadaanya. Namun kami terus berusaha menguatkannya. Lila saja tidak menampakkan kesedihan. Dia masih bisa tertawa dan bercanda. Sungguh hebat. Saya bangga punya teman setegar Lila.
“Maaf ya, aku cuma bisa mendengar suara kalian. Tidak jelas”, tuturnya pada kami saat kami tiba. Pandangan matanya pun tidak kearah lawan bicara. Dia bercerita tentang pengobatan alternative dari seorang dokter yang dikenalkan sahabatnya. Biayanya ga sedikit. Puluhan juta untuk pengobatan dua bulan. Padahal ayahnya hanya seorang guru yg setahu saya baru saja selesai S1, sedang ibunya ibu rumah tangga. Tentu itu bukan biaya yg sedikit. Tapi semua dilakukan untuk kesembuhan Lila. Dokter itu memberikan ramuan dan obat-obatan yang katanya sih bahannya dari China. Kami pun berharap semoga Lila bisa seperti dulu. Sehat dan kembali kuliah lagi. Terlihat sekali optimisme dari Lila. Kami pun mendoakan kesembuhannya.
Lila pun pulang ke kampung halaman. Meski begitu, kami tetap menjaga silaturahim walau cuma lewat sms. Setelah berbulan-bulan tidak bertemu, saya bertanya keadaanya pada Rara. Ternyata pengobatan alternative yg dulu dijalani tidak membuat keadaanya lebih baik. Awalnya sih ada perubahan yg menyebabkan penglihatan jadi lebih jelas. tapi obat yang diberikan dokternya cuma untuk beberapa bulan. Setelah obat itu habis, kembali seperti semula. Yang memprihatinkan, dokter itu tidak bisa dihubungi. Seperti lepas tanggung jawab. Padahal biaya yg dikeluarkan sangat banyak. Akhirnya, Lila dan keluarga tak menghubungi dokter itu lagi. Seperti peribahasa ya. “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Saya kesal sekali sama dokter itu. Memang, kesembuhan itu hanya Allah yg menentukan. Tapi dokter harusnya tetap memperhatikan perkembangan dari pasien yg ditanganinya. Dokter itu seperti menghilang. Misterius.
Ya Allah, semoga Lila dan keluarganya tabah menghadapi ini semua. Pasti ada rencana indah yang Kau siapkan untuknya. Hanya doa yg bisa diberikan untuk Lila.
Waktu pun terus berjalan. Beberapa bulan yang lalu, karena saya sudah lama tak bertanya kabar dengan Lila, saya kirim sebuah sms. Waktu itu saya baru saja wisuda. Kemudian, saya dapat balasan sms dari Lila. Saya sangat senang mendengar kabar darinya. Dia dalam keadaan baik-baik saja dan sangat berbahagia. Apa gerangan yang membuatnya bahagia?
Hehehehe. Lila minta maaf pada saya karena dia tidak mengundang saya saat acara pernikahannya. Tapi Lila janji akan mengirim undangan resepsi perkawinan, meski cuma lewat sms. Karena tempat tinggal Lila di daerah Barabai, sedangkan saya di Banjarmasin. Walau tak menutup kemungkinan, undangan masih dapat dikirimkan.
Waaaaahhhh....!!! Saya sangat kaget karena tidak diberitahu sebelumnya. Tapi saya sangat senang. Alhamdulillah, teman saya ini telah menemukan imam terbaik pilihan Allah untuknya. Masih terngiang di telinga saya, suatu kali di kelas, Lila berkata “Adak ah seorang lelaki yang mau menerima keadaanku yg seperti ini?”, tapi Lila masih bisa senyum kok. Kami yg mendengarnya hanya memberinya dukungan dan nasihat bahwa semua pasti udah diatur oleh Allah. Pasti itu yg terbaik.
Akhirnya.... Lila pun menemukan pangerannya. Sungguh membahagiakan. Lelaki itu tentulah lelaki sholeh yg terbaik yg telah Allah siapkan untuk Lila. Dia pasti mampu membimbing Lila dan membahagiakan Lila. Lila pantas mendapatkan lelaki sholeh ini. Alhamdulillah... Jalan bahagia telah Allah sediakan untuk setiap hambaNya. Inilah jalan bahagia untuk Lila.
Semoga kisah ini bermanfaat ya...
Teriring doa untuk temanku...
Barakallahu laka wa barakallahu alaika wa jama’a bainakuma fil khair.
Semoga Allah karuniakan barakah kepadamu dan semoga Ia limpahkan barakah atasmu dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan.
Beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah saat saya semester 4. Suatu hari, saya tiba di kampus, tepatnya di aula di mana perkuliahan hari itu akan dilaksanakan. Seperti biasa, kalau kuliah pagi, akan lumayan banyak mahasiswa yang terlambat termasuk juga dosennya. Saya mencari tempat duduk yang nyaman, ga hanya buat saya seorang, tetapi buat teman-teman cs. Nah, saya memilih duduk di belakang Lila dan sohibnya, Rara. Di sana juga ada dua orang lagi sohib mereka. Setelah saya duduk, saya perhatikan mereka sedang bicara serius. Tapi kok ada yang aneh. Ada air mata yang mengiringi pembicaraan mereka. Dasar saya yg penasaran, saya ikut nimbrung.
“Eh, La, kenapa nangis? Ada apa?”
“Aku mau berhenti kuliah”
“Kenapa?”
Lila pun menguraikan kisahnya. Dia udah tak bisa lagi melanjutkan kuliah karena sakit yang dideritanya semakin membuatnya tak berdaya. Sakit? Sakit apa?
Baiklah, akan saya ceritakan lagi mengenai hal ini.
Saya lupa tepatnya kapan. Lila bercerita kepada saya, bahwa dia memiliki suatu penyakit bawaan sejak lahir. Penyakit itu terkait saraf mata yang terhubung ke otak. Saya juga tidak tahu apa nama penyakit ini. Jadi jangan tanya saya apa nama penyakitnya. Karena saraf mata yg mengalami gangguan, maka dokter yg pernah menanganinya berkata bahwa tidak ada pengobatan yg dapat menyembuhkannya, yg ada hanya mengurangi rasa sakit dan mencegah agar tidak bertambah parah. Bola mata yg sebelah kirinya adalah bola mata tanam, bukan lagi yang asli karena telah diganti. Dia juga pernah menjalani operasi katarak sehingga pernah satu tahun harus meninggalkan sekolahnya.
Meski dengan keadaannya yg seperti itu, Lila tak patah semangat untuk terus sekolah kembali. Lila juga termasuk siswa yang pandai. Di kampus pun dia mendapat IP yang terbilang tinggi di prodi kami. Lila juga akhwat yang baik. Dia ikut bergabung juga di KSI tingkat prodi. Karena keadaan sakitnya itu, dia pun mengundurkan diri dari KSI.
Untuk melihat ke papan tulis, Lila udah ga bisa. Sehingga dia cuma melihat catatan temannya yg di samping. Penglihatannya akhir-akhir ini pun semakin kabur. Apalagi jika dipaksakan untuk belajar, Lila pusing dan semakin gelap. Saat mengetahui keadaannya seperti itu, saya sungguh merasa miris. Andai saja saya di posisinya, mungkin saya tak bisa sekuat Lila. Saya jadi semakin bersyukur dgn apa yg telah Allah SWT karuniakan kepada saya. Alhamdulillah...
Kembali ke obrolan bersama Lila cs.
Lila udah ga kuat lagi untuk terus kuliah. Semakin kabur, semakin gelap. Pusing juga. Dia menjelaskan semuanya sambil diiringi air mata. Tentu saja kami sebagai teman turut prihatin dgn keadaannya. Kami nangis bersama. Akhirnya kami cuma bisa menguatkan dia dan mendoakan agar Lila kuat menghadapi cobaan ini. Akhirnya Lila pun memutuskan untuk berhenti kuliah. Katanya, kalau keadaannya telah membaik, dia akan meneruskan kuliah.
Hingga akhir semester dan final, Lila masih tetap ke kampus seperti biasa. Setelah itu kemudian seperti yang sudah direncanakan, Lila cuti kuliah. Sebelumnya dia sudah bercerita kepada dosen PA.
Saat teman-teman ikhwan di KSI tahu keadaan Lila, mereka mengusulkan kepada kami para akhwat untuk menjenguk dan mensupprotnya. Ya, kami memang berencana seperti itu. Saya pun meminta Rara untuk memberi info kalau Lila ada di Banjarmasin. Rara adalah teman dekat Lila dan tinggal satu kos.
Suatu hari, Rara memberi kabar bahwa Lila sedang ada di Banjarmasin dan ada di kos. Saya dan beberapa teman lalu menjenguknya sepulang kuliah. Senang sekali bisa bertemu dengannya lagi. Kami pun bercerita banyak hal. Prihatin. Itu yg kami rasakan saat melihat keadaanya. Namun kami terus berusaha menguatkannya. Lila saja tidak menampakkan kesedihan. Dia masih bisa tertawa dan bercanda. Sungguh hebat. Saya bangga punya teman setegar Lila.
“Maaf ya, aku cuma bisa mendengar suara kalian. Tidak jelas”, tuturnya pada kami saat kami tiba. Pandangan matanya pun tidak kearah lawan bicara. Dia bercerita tentang pengobatan alternative dari seorang dokter yang dikenalkan sahabatnya. Biayanya ga sedikit. Puluhan juta untuk pengobatan dua bulan. Padahal ayahnya hanya seorang guru yg setahu saya baru saja selesai S1, sedang ibunya ibu rumah tangga. Tentu itu bukan biaya yg sedikit. Tapi semua dilakukan untuk kesembuhan Lila. Dokter itu memberikan ramuan dan obat-obatan yang katanya sih bahannya dari China. Kami pun berharap semoga Lila bisa seperti dulu. Sehat dan kembali kuliah lagi. Terlihat sekali optimisme dari Lila. Kami pun mendoakan kesembuhannya.
Lila pun pulang ke kampung halaman. Meski begitu, kami tetap menjaga silaturahim walau cuma lewat sms. Setelah berbulan-bulan tidak bertemu, saya bertanya keadaanya pada Rara. Ternyata pengobatan alternative yg dulu dijalani tidak membuat keadaanya lebih baik. Awalnya sih ada perubahan yg menyebabkan penglihatan jadi lebih jelas. tapi obat yang diberikan dokternya cuma untuk beberapa bulan. Setelah obat itu habis, kembali seperti semula. Yang memprihatinkan, dokter itu tidak bisa dihubungi. Seperti lepas tanggung jawab. Padahal biaya yg dikeluarkan sangat banyak. Akhirnya, Lila dan keluarga tak menghubungi dokter itu lagi. Seperti peribahasa ya. “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Saya kesal sekali sama dokter itu. Memang, kesembuhan itu hanya Allah yg menentukan. Tapi dokter harusnya tetap memperhatikan perkembangan dari pasien yg ditanganinya. Dokter itu seperti menghilang. Misterius.
Ya Allah, semoga Lila dan keluarganya tabah menghadapi ini semua. Pasti ada rencana indah yang Kau siapkan untuknya. Hanya doa yg bisa diberikan untuk Lila.
Waktu pun terus berjalan. Beberapa bulan yang lalu, karena saya sudah lama tak bertanya kabar dengan Lila, saya kirim sebuah sms. Waktu itu saya baru saja wisuda. Kemudian, saya dapat balasan sms dari Lila. Saya sangat senang mendengar kabar darinya. Dia dalam keadaan baik-baik saja dan sangat berbahagia. Apa gerangan yang membuatnya bahagia?
Hehehehe. Lila minta maaf pada saya karena dia tidak mengundang saya saat acara pernikahannya. Tapi Lila janji akan mengirim undangan resepsi perkawinan, meski cuma lewat sms. Karena tempat tinggal Lila di daerah Barabai, sedangkan saya di Banjarmasin. Walau tak menutup kemungkinan, undangan masih dapat dikirimkan.
Waaaaahhhh....!!! Saya sangat kaget karena tidak diberitahu sebelumnya. Tapi saya sangat senang. Alhamdulillah, teman saya ini telah menemukan imam terbaik pilihan Allah untuknya. Masih terngiang di telinga saya, suatu kali di kelas, Lila berkata “Adak ah seorang lelaki yang mau menerima keadaanku yg seperti ini?”, tapi Lila masih bisa senyum kok. Kami yg mendengarnya hanya memberinya dukungan dan nasihat bahwa semua pasti udah diatur oleh Allah. Pasti itu yg terbaik.
Akhirnya.... Lila pun menemukan pangerannya. Sungguh membahagiakan. Lelaki itu tentulah lelaki sholeh yg terbaik yg telah Allah siapkan untuk Lila. Dia pasti mampu membimbing Lila dan membahagiakan Lila. Lila pantas mendapatkan lelaki sholeh ini. Alhamdulillah... Jalan bahagia telah Allah sediakan untuk setiap hambaNya. Inilah jalan bahagia untuk Lila.
Semoga kisah ini bermanfaat ya...
Teriring doa untuk temanku...
Barakallahu laka wa barakallahu alaika wa jama’a bainakuma fil khair.
Semoga Allah karuniakan barakah kepadamu dan semoga Ia limpahkan barakah atasmu dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan.
Langganan:
Postingan (Atom)